C

Contoh Kata-kata Kasar dalam Bahasa Daerah yang Harus Dihindari

Kata kasar dalam bahasa daerah ini cukup sensitif dan sebaiknya kita hindari, ya!

Saat mengunjungi daerah-daerah tertentu di Indonesia tidak jarang kita mendengar beberapa ucapan dalam bahasa daerah yang tidak kita mengerti. Namun, tahukah kamu ada beberapa kata kasar dalam bahasa daerah yang biasanya sering diucapkan?

Selain sering dilontarkan ketika dalam situasi marah, kecewa, ataupun kesal terhadap sesuatu, kata-kata kasar dengan tendesi makian tersebut juga sering diucapkan dalam suatu lingkungan pergaulan. FYI, kamu sebaiknya cukup tahu saja tentang kata kasar dalam bahasa daerah ini dan hindari untuk meniru kata-katanya, ya.

Kira-kira apa saja kata kasar yang terdapat di berbagai suku dan daerah di Indonesia? Cek di bawah ini!

Kata Kasar dalam Bahasa Jawa

kata kasar dalam bahasa daerah
Source: Pexels.com

Kata-kata ini biasanya digunakan untuk anak usia muda di wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur, terutama di Kota Surabaya. Kata ini sering dilontarkan lantaran mereka menganggap kata kasar ini sebagai bahasa gaul sesama mereka.

Meski begitu, kata-kata ini sangat tidak dianjurkan untuk diucapkan, ya. Selain dilontarkan hanya untuk kalangan sendiri, kata-kata ini sangat terdengar tidak enak untuk orang tua atau orang lain karena arti sebenarnya adalah perkataan kotor.

1. Jancok atau jancuk

Kata kasar ini bermula dari sebutan diencuk yang artinya ditusuk dalam bersetubuh, yang diambil dari kata “encuk”. Kemudian seiringnya waktu, pengucapannya juga berubah sesuai dengan lidah yang dirasa pas oleh pengucap. Mulai dari diancok, diancuk, djancok, jancuk, dancok, hingga dancuk.

2. Damput

Kata kasar ini maknanya tidak jauh berbeda dari kata jancuk. Damput berasal dari kata diamput yang artinya diapit dalam hal persetubuhan. Dari kata diamput kemudian berubah seiring waktu menjadi damput.

3. Asu, jaran, dan wedus

Kata kasar ini merupakan jenis hewan yang tentunya hewan dianggap lebih hina daripada manusia. Sejatinya setiap manusia pasti tidak akan mau disamakan dengan hewan, bukan? 

Biasanya kata yang sering diucapkan mulai dari asu yang berarti anjing, jaran yang berarti kuda, hingga wedus yang berarti domba. Misalnya dengan ucapan seperti ini, “oh, pancen raimu koyok wedus” (oh, memang wajahmu seperti kambing). 

Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah yang paling kaya dan banyak digunakan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam bahasa Jawa, ada beberapa kata kasar yang perlu dihindari. Salah satu contoh kata kasar adalah “cuk” yang berarti bodoh. Kata ini sering digunakan sebagai penghinaan atau ejekan.

4. Nggateli

Kata ini dari kata “gatel” (gatal) tetapi ditambah “li”. Dalam bahasa Indonesia arti kata ini merujuk kepada kemaluan lelaki (penis). 

Jadi, kata nggateli ini memiliki arti gatal pada kemaluan lelaki. Jika diucapkan kepada teman dekat mungkin bukan masalah, tapi akan berbeda ketika dalam percakapan formal dan sopan tentunya.

5. Nggapleki

Kata ngaplek sendiri memiliki arti ngeselin. Misalnya digunakan dalam kalimat “arek iku jan nggapleki” yang memiliki makna anak itu sangat ngeselin. Kata nggapleki ini lebih sering di dengar di daerah Kediri yang biasa sering diplesetkan “gaplek asale soko telo” dari sebuah lagu karya almarhum Didi Kempot.

6. Cuk

Dalam bahasa Jawa, ada beberapa kata kasar yang perlu dihindari. Salah satu contoh kata kasar adalah “cuk” yang berarti bodoh. Kata ini sering digunakan sebagai penghinaan atau ejekan.

Baca juga: 20 Kata Umpatan Bahasa Korea yang Sering Muncul di Drakor, Sebaiknya Jangan Diucapkan!

Kata Makian dalam Bahasa Sunda

kata kasar
Source: Pexels.com

Bahasa Sunda merupakan bahasa daerah yang cukup familiar di semua kalangan. Hal ini tidak lepas dari peran Jawa Barat sebagai salah satu tujuan bekerja dan menempuh pendidikan bagi anak muda.

Namun, terdapat beberapa kata kasar dalam bahasa Sunda yang belum banyak diketahui. Berikut beberapa kata kasar atau makian dalam bahasa Sunda yang sebaiknya kamu hindari, terutama jika berbicara dengan orang yang lebih tua.

1. Koplok

Kata kasar yang sering diucapkan dalam bahasa Sunda adalah koplok yang memiliki arti bodoh atau goblok. Meskipun begitu, kata ini sering dijadikan kata candaan bagi seseorang yang sudah sangat akrab kepada seseorang lainnya. Meskipun begitu, hindari mengucapkannya kepada orang yang lebih tua, ya!

2. Kehed

Kata Sunda yang memiliki makna ‘kasar’ lainnya ialah kehed. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, kata kasar ini mempunyai arti sialan. Biasanya diucapkan ketika seseorang merasa kesal atau sebal terhadap sesuatu yang menimpanya.

3. Podol

Jika kamu belum mengetahui makna kata kasar ini, jangan menyebutnya saat berada di Tanah Sunda, ya! Kata tersebut mengandung arti feses. Tentunya kamu akan dianggap tidak sopan jika mengucapkannya, apalagi terhadap orang yang baru dikenal.

4. Bagoy

Kata kasar dalam bahasa Sunda juga ada yang berasal dari plesetan, salah satunya ialah bagoy. Kata ini merupakan plesetan dari kata bagong yang memiliki arti seekor babi hutan.

5. Jurig dan belis

Jurig merupakan salah satu kasar atau makian yang artinya hantu atau setan, sedangkan belis memiliki iblis. Kata ini biasanya sering digunakan untuk mengutarakan kekesalan kepada seseorang.

7. Edan

Contoh kata kasar dalam bahasa Sunda adalah “edan,” yang berarti gila atau bodoh. Meskipun dalam beberapa konteks dapat digunakan dengan maksud bercanda, penggunaannya harus tetap diperhatikan agar tidak menyinggung perasaan orang lain.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Fitur Twitter Circle dan Cara Menggunakannya | Yuk, Bikin Obrolan Lebih Privat!

Kata Kasar dalam Bahasa Manado

kata kasar dalam bahasa daerah
Source: Pexels.com

Setiap bahasa daerah pastinya memiliki ciri khas masing-masing yang menjadi keunikannya, terutama di Manado. Kata kasar dalam bahasa Manado cukup beragam. Setiap kata dan makian yang dilontarkan biasanya mengarah pada objek tertentu. 

Selain itu, kata yang dilontarkan juga menyiratkan makna lain. Lebih lengkapnya, yuk, simak berikut ini!

1. Telasota

Dalam bahasa Sulawesi, makna telaso merupakan kotoran penis. Istilah ini berasal dari kata “te” atau “tai” yang berarti kotoran atau ampas, sedangkan “laso” atau “lacu” adalah penis atau alat kelamin laki-laki. 

Biasanya penyebutan kata ini dilakukan ketika seseorang sedang mengumpat, atau setelah meluapkan emosinya yang tidak terkontrol. Selain itu, kata ini juga sangat sensitif dalam bahasa Sulawesi dan kerap memicu konflik antarsesama.

2. Boke

Kata boke merupakan kata kasar yang sering digunakan oleh masyarakat di daerah Manado. Boke memiliki makna umpatan yang berarti babi. Penggunaan kata ini bermaksud sebagai sarana untuk mengungkapkan emosi terhadap seseorang.

3. Setang

Kata ini adalah sebuah umpatan yang memiliki referensi makhluk halus atau mengandung makna setan. Kata ini biasanya digunakan untuk menghina orang-orang yang memiliki kelakuan seperti setan dan memiliki maksud sebagai sarana mengungkapkan emosi.

4. Pendo

Kata pendo ini sebenarnya berasal dari bahasa Spanyol yakni “pendō” yang memiliki arti “menggantung atau ragu-ragu dalam berpikir”. Jika kata pendo tersebut mendapat imbuhan awalan kata “pe menjadi pe pendo”, maka itu bermakna mengeraskan arti, supaya jangan ragu atau pakai otak/pikirannya.

5. Sangaya

Satu ini merupakan kata kasar yang mengandung referensi terhadap keadaan mental seseorang. Sangaya sendiri memiliki arti yaitu ‘nakal’.

Kata ini biasanya digunakan untuk mengumpat lelaki yang nakal. Selain itu, ucapan kata sangaya juga sering dijadikan sebagai sarana untuk mengungkapkan emosi.

6. Ongol

Bahasa Manado digunakan di wilayah Sulawesi Utara dan memiliki ciri khasnya sendiri. Dalam Bahasa Manado, ada kata-kata kasar seperti “ongol” yang digunakan untuk menyebut seseorang yang sombong atau arogan.

Penggunaan kata-kata kasar ini dapat menunjukkan ketidaksetujuan terhadap perilaku seseorang.

Baca juga: Apa Artinya Slebew? Ternyata Nggak Bisa Digunakan Sembarangan, Lho!

Kata Makian dalam Bahasa Minang

Source: Pixabay.com

Tahukah kamu bagaimana orang Minang ketika memaki orang dengan bahasanya? Perpaduan emosi yang sedang memuncak beserta uniknya kosakata bahasa Minang menjadi daya tarik sendiri bagi selain orang Minang. 

Penasaran apa saja kata kasar atau makian yang biasa dilontarkan oleh orang Minang? Langsung simak penjelasan di bawah ini, ya!

1. Pantek

Pantek merupakan salah satu kata kasar bahasa Minang yang memiliki arti alat kelamin wanita.  Penggunaan kata pantek biasanya dilontarkan untuk mengumpat atau mencela seseorang dan termasuk kata kotor yang tidak boleh diucapkan.

2. Barangin

Lanjut, ada Barangin yang memiliki makna sama dengan kurang waras, tidak bisa jadi pegangan, suka asyik dengan diri dan pikiran sendiri. Barangin juga biasanya menjadi sebutan untuk orang-orang yang suka nekat. Tidak hanya itu, kata ini juga sering digunakan untuk memaki seseorang ketika sedang emosi.

3. Anjiang dan baruak

Setiap bahasa daerah ternyata tak lepas dari umpatan menggunakan nama hewan. Di Minang sendiri nama hewan yang umumnya digunakan sebagai kata kasar untuk menghina orang lain ialah anjiang dan baruak.

Anjiang memiliki arti seekor anjing. Sedangkan, baruak memiliki arti seekor monyet. Kata ini tidak hanya sering diucapkan sebagai pengungkap rasa kesal, namun juga sering dilontarkan untuk menjaga suasana akrab dalam suatu pergaulan.

4. Kalera

Kalera dalam bahasa Minang adalah suatu ucapan bentuk rasa kekesalan terhadap seseorang. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia memiliki keparat, kampret, kurang ajar dan kata-kata kasar semacamnya.

Selain itu, kalera juga sudah menjadi umpatan harian di kalangan komunitas pedagang pasar asal Sumatra Barat. Walaupun arti sebenarnya sangat tidak senonoh untuk diucapkan, namun kebanyakan masyarakat Minang mengucapkan kata ini ketika sedang merasa marah atau kesal.

5. Poyok

Poyok merupakan kata kasar dalam bahasa Minang yang memiliki arti wanita jalang yang tidak punya harga diri. Biasanya kata ini ditujukan kepada seorang gadis yang secara susila tidak pantas untuk dicontoh.

Sebagai contoh kalimat berikut ini “tu ha, alah laruik malam baru ka pulang si poyok tu” “itu dia, sudah larut malam baru mau pulang si jalang itu”.

Etika Penggunaan

Penggunaan kata-kata kasar atau kata makian dalam bahasa daerah sering kali sangat tergantung pada konteks budaya dan sosial masyarakat setempat. Dalam banyak kasus, kata-kata kasar ini digunakan dalam percakapan santai di antara teman sebaya yang memahami konteksnya.

Namun, penggunaannya harus dihindari dalam situasi formal atau di hadapan orang yang lebih tua. Selain itu, penting untuk diingat bahwa penggunaan kata-kata kasar atau kata makian bisa memiliki dampak negatif pada hubungan interpersonal.

Maka, sangat penting untuk mempertimbangkan audiens dan situasi saat menggunakan bahasa daerah yang mengandung kata-kata kasar tersebut. Etika penggunaan kata-kata kasar atau kata makian dalam bahasa daerah adalah isu yang kompleks.

Sebagian orang berpendapat bahwa penggunaannya harus dihindari sepenuhnya, terutama dalam situasi formal atau di depan orang yang lebih tua, untuk menjaga sopan santun dan menghormati orang lain.

Namun, dalam konteks percakapan santai di antara teman sebaya yang memahami makna dan konteksnya, penggunaan kata-kata kasar tersebut mungkin lebih toleran.

Artikel menarik lainnya:


Itulah beberapa kata kasar atau makian dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia. Meski sebagian besar terdengar dan memiliki makna yang cukup kasar dan sensitif, namun kosakata tersebut bisa terbilang cukup unik.

Kamu punya informasi tambahan mengenai kata kasar dalam bahasa daerah lainnya? Jangan sungkan untuk bagikan informasinya di kolom komentar, ya!

Cari hunian dekat dengan kuliner, perkantoran, rumah sakit, maupun tempat strategis lainnya? Coba tinggal di Rukita saja!

Tak hanya di Jabodetabek dan pulau Jawa saja, seperti kost jogjakost malangkost semarang, maupun kost bandung. Ada juga di beberapa kota Indonesia lainnya!

Cari hunian dekat dengan kuliner, perkantoran, rumah sakit, maupun tempat strategis lainnya? Coba tinggal di Rukita saja!

Tak hanya di Jabodetabek dan pulau Jawa saja, seperti kost jogjakost malangkost semarang, maupun kost bandung. Ada juga di beberapa kota Indonesia lainnya!

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Faniditya Ramadhan

I am a writer with a passion for words and ideas. Covered a wide range of topics, such as sports, fashion, or finance.

Leave a Reply