M

Mengenal Sunan Kudus, Asal-usul, Metode, dan Strategi Dakwahnya

Sunan Kudus merupakan penyebar agama Islam di Jawa Tengah, tepatnya di daerah Kudus.

Wali songo merupakan sebutan untuk sembilan orang tokoh yang dikenal sebagai wali atau ulama yang memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke 15 hingga abad ke 16. Ke sembilan wali tersebut dianggap sebagai tokoh-tokoh suci dalam agama Islam di Indonesia dan banyak dipuja oleh umat Muslim di Pulau Jawa.

Masing-masing wali songo memiliki wilayah penyebaran dakwah yang berbeda-beda. Selain wilayah yang berbeda, metode penyebaran Islam yang digunakan juga berbeda-beda pada setiap wali. Salah satu wali yang menggunakan metode kebudaaan sebagai cara dakwahnya, yaitu Sunan Kudus.

Sunan Kudus atau yang juga dikenal sebagai Sayyid Ja’far Shidiq Azmathkan merupakan salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa, khususnya di daerah Kudus, Jawa Tengah. Sebelum pindah ke Kudus dan menyebarkan agama Islam, beliau bertugas memperluas wilayah Kerajaan Demak.

Demak merupakan pusat pengembangan Islam pada akhir Kerajaan Majapahit. Untuk mengetahui lebih dalam informasi mengenai Sunan Kudus sebagai penyebar agama Islam di Pulau Jawa, simak informasi berikut ini!

Baca Juga: Kisah Sunan Gresik, Penyebar Agama Islam Pertama di Pulau Jawa!

Asal Usul Sunan Kudus

Sunan kudus
Source: Harian Merapi

Sunan Kudus merupakan salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Wilayah dakwah atau penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Kudus, berada di daerah Kudus, Jawa Tengah. Sunan Kudus adalah putra dari Raden Utsman Haji alias Sunan Ngudung dengan Syarifah Dewi Rahil binti Sunan Bonang.

Konon, ayah dari Sunan Kudus merupakan pemimpin dari Kerajaan Majapahit. Sunan Ngundung selaku senopati Demak bertarung sengit dengan Raden Husain atau Adipati Terung dari Majapahit. Dalam pertempuran tersebut, Sunan Ngundung gugur, sehingga kedudukannya sebagai senopati Demak digantikan oleh anaknya, Sunan Kudus.

Sementara ibu Sunan Kudus, merupakan putri dari Sunan Bonang. Beliau dilahirkan pada tanggal 9 September 1400M. Sehingga, Sunan Kudus adalah cucu dari Sunan Bonang. Secara tidak langsung, Sunan Kudus merupakan keturunan langsung dari Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW.

Metode Pendekatan Masyarakat oleh Sunan Kudus

Sunan Kudus merupakan murid Sunan Kalijaga. Hal itu membuat Sunan Kudus meniru pendekatan dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Hal tersebut terlihat ketika beliau sangat toleran terhadap adat istiadat dan budaya setempat. Oleh sebab itu, Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus dikenal sebagai wali songo golongan abangan. Abangan merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyebut umat Islam yang masih mempraktikkan tradisi dari nenek moyang atau Hindu-Buddha.

Sunan Kudus melakukan dakwah penyabaran Islam di Pulau Jawa pada saat mayoritas masyarakatnya merupakan pemeluk agama Hindu dan Buddh. Bahkan tidak sedikit pula masyarakat yang masih mempertahankan budaya nenek moyang. Oleh karena itu, beliau mengutamakan toleransi sebagai cara untuk mendekati masyarakat Kudus.

Strategi Penyebaran agama Islam Melalui Kebudayaan

Sunan Kudus
Source: Akurat.co

Diawali dengan metode pendekatan yang dilakukan dengan toleransi terhadap budaya masyarakat setempat, beliau menggunakan beberapa strategi dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Sunan Kudus merupakan pendakwah ulung di Tanah Jawa yang mampu melakukan dakwah dengan cara-cara fleksibel untuk mengambil hati masyarakat non-islam.

Salah satu caranya adalah dengan melakukan pendekatan kebudayaan. Dengan begitu, agama Islam mampu diterima dengan baik oleh masyarakat setempat tanpa melakukan tindakan kekerasan. Ada berbagai macam cara dilakukan oleh Sunan Kudus dalam melakukan pendekatan kebudayaan.

Salah satu cara Sunan Kudus mendekati masyarakat adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu-Buddha, yang terlihat pada arsitektur Masjid Menara Kudus. Masjid Menara Kudus merupakan salah satu peninggalan Sunan Kudus yang paling populer. Bentuk menara masjid ini menyerupai candi Hindu, sedangkan beberapa bagian masjid lainnya menunjukkan adanya pengaruh Buddha. Tanpa menghilangkan tradisi, masyarakat setempat tidak berat untuk datang ke masjid untuk mendengarkan dakwah Sunan Kudus.

Sunan Kudus juga memanfaatkan sapi sebagai salah satu strategi dakwahnya. Sapi merupakan hewan suci bagi umat Hindu, sehingga untuk menarik perhatian masyarakat setempat beliau memanfaatkan sapi yang diberi nama Kebo Gumarang untuk menarik perhatian masyarakat. Kebo Gumarang dihias sedemikian rupa dan diikat di halaman masjid untuk menarik orang datang dan akhirnya mendengarkan dakwah.

Strategi Dakwah Tanpa Menghilangkan Tradisi Masyarakat

Sunan Kudus
Source: Gerbang Nalar

Sunan Kudus sangat lunak terhadap tradisi masyarakat setempat, dimana beliau hanya melakukan beberapa penyesuaian terhadap kepercayaan masyarakat. Beliau memasukkan ajaran Islam tanpa memaksa masyarakat meninggalkan kepercayaan mereka. Pada tradisi tujuh bulanan misalnya, beliau tidak melarang masyarakat untuk melakukannya, akan tetapi beliau menekankan agar rasa syukur pada saat prosesi hanya ditujukan kepada Allah.

Dalam dakwahnya, beliau juga mengubah cerita-cerita bertema tauhid ke dalam kisah yang berseri. Dengan cara ini, ajaran Islam dapat tersampaikan dengan mudah dan masyarakat terus berdatangan karena tertarik mengikuti kelanjutan ceritanya. Seni suara juga menjadi media dalam metode dakwah Sunan Kudus. Beliau menciptakan gending Maskumambang dan Mijil, yang mengandung ajaran Islam di dalamnya.

Dalam teknologi, beliau memberi teladan dalam mengembangkan teknologi terapan yang bersifat tepat guna. Hal ini bertujuan untuk mengangkat perekonomian masyarakat setempat. Beberapa keahlian yang diajarkan Sunan Kudus, meliputi teknik membuat keris, pandai besi, kerajinan emas, dan membuat alat-alat pertukangan.

Artikel menarik lainnya:


Itulah informasi mengenai Sunan Kudus, sebagai penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sunan Kudus adalah salah satu tokoh utama dalam sejarah Islam di Indonesia yang memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam dan pengembangan budaya Jawa. Beliau sangat menjunjung tinggi toleransi terhadap budaya masyarakat setempat dengan berusaha memasukkan unsur-unsur Islam.

Cari kost untuk hunian bulanan atau tahunan? Atau ingin sewa kost khusus untuk kost putra dan kost putri? Cek di Rukita saja, yuk! Rukita punya banyak unit hunian dengan fasilitas lengkap di beberapa kota seperti di kost bandungkost surabayakost jogja, dan beberapa kost di kota lainnya.

Ada juga pilihan kost lainnya yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kamu. Mulai dari kost khusus putra/putri, kost pet friendly, hingga kost yang dilengkapi dengan rooftop.

Ingin cari kost lainnya yang memiliki fasilitas lengkap dengan harga murah? Yuk, langsung aja cek unitnya di infokost.id! Ada banyak kost murah yang pastinya sesuai dengan kebutuhanmu.

Jangan lupa unduh aplikasi Rukita yang tersedia di Play Store dan App Store atau kunjungi www.rukita.co untuk informasi lebih lanjut. Ikuti juga akun Instagram @rukita_indoTwitter @rukita_id, dan TikTok @rukita_id untuk mengikuti info dan promo menarik lainnya!

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Leave a Reply