·31 May 2022

Mana yang Benar Diucapkan, Penulisan Insya Allah atau Insha Allah?

·
6 minutes read
Mana yang Benar Diucapkan, Penulisan Insya Allah atau Insha Allah?

Nggak perlu bingung lagi dengan penulisan Insya Allah yang benar

Meski kata InsyaAllah sudah sering kali umat muslim dengar sehari-hari, tapi masih banyak juga pertanyaan tentang penulisan Insya Allah yang benar seperti apa. Di antara Insya Allah atau In shaa Allah, beberapa orang masih ragu penggunaan yang benar seperti apa.

Kalau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) penulisan yang baku adalah insya Allah dengan artinya ungkapan yang digunakan untuk menyatakan harapan atau janji yang belum tentu dipenuhi (maknanya ‘jika Allah mengizinkan’).

Dalam artikel ini kita akan membahas lebih lanjut penulisan insya Allah yang benar beserta artinya, tak hanya berdasarkan KBBI tapi juga dalam bahasa Arab.

Penulisan Insya Allah yang Benar

Sebenarnya memang ada perbedaan penulisan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Arab dalam penulisan insya Allah ini. Tentu saja hal mendasar yang membedakan keduanya adalah bahasa Indonesia menggunakan huruf alfabet, sementara bahasa Arab ditulis dengan hijaiah.

Namun, terkait detailnya bisa teman-teman pahami secara mendalam melalui ulasan yang nanti akan kita bahas. Dalam artikel ini juga akan membahas secara lengkap mengenai kapan waktu yang tepat untuk mengucapkan insya Allah.

1. Penulisan insya Allah yang benar dalam bahasa Arab

penulisan insya allah yang benar

Source: Freepik

Penulisan insya Allah yang benar dalam bahasa Arab adalah seperti berikut.

إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Dalam bahasa Indonesia huruf ش biasa ditulis dengan “sy” sehingga membacanya menjadi insya Allah. Sedangkan huruf ش dalam bahasa Inggris biasa ditulis dengan “sh”, sehingga membacanya pun menjadi inshaa Allah.

Dari penjelesan di atas juga bisa kita simpulkan adanya perbedaan penulisan insya Allah antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Jadi إِنْ شَاءَ اللَّهُ bisa ditulis dengan “insya Allah” maupun “inshaa Allah” tergantung kamu menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.

Tapi tetap dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kita menulisnya dengan “insya Allah” sebagaimana biasanya kita menulis salat “isya” bukan salat “isha”.

2. Arti insya Allah

Source: Pixabay

Secara sederhana insya Allah إِنْ شَاءَ اللَّهُ artinya adalah “Jika Allah menghendaki”. Namun jika secara lengkap seperti dikutip dari laman NU Online, insya Allah sesungguhnya berasal dari perintah Alquran.

Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi ayat 23-24:

وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا . إِلّا أَنْ يَشَ

Artinya: “Dan janganlah engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Aku akan melakukannya besok.’ Kecuali jika Allah menghendaki atau mengucapkan insya Allah.”

Ayat ini mengajarkan umat yang mengucapkannya untuk selalu rendah hati. Juga betapa pentingnya menyadari kita tak bisa mengandalkan kemampuan pribadi karena ada kekuatan yang lebih besar dibanding dirinya.

3. Makna pengucapan insya Allah

penulisan insya allah yang benar

Source: Freepik

Makna pengucapan insya Allah ini adalah segala sesuatu terjadi atau nggak terjadi, itu merupakan atas kehendak Allah. Ucapan ini sering kali disebutkan seorang muslim ketika ingin berencana atau sedang berjanji.

Insya Allah ini juga bermakna bagi seorang muslim untuk selalu menyerah diri pada Allah. Sebagai seorang hamba kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, apakah rencana kita bisa terlaksana atau tak terlaksana.

Kita pun percaya segala sesuatu bisa terjadi dan begitu juga gagal karena semua atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi ketika seorang muslim mengucapkan “insya Allah” ini harus benar-benar sesuai keyakinan.

Kita nggak boleh hanya sekadar menggunakan kata “insya Allah” tanpa memiliki keyakinan sama sekali tentang ini. Maksudnya adalah ketika mengucapkan insya Allah berarti kita tetap akan memenuhi janji tersebut atas seizin Allah.

BACA JUGA: Daftar Huruf Hijaiyah, Yuk Mengenal Tanda Baca dan Penulisannya

4. Waktu yang tepat mengucapkan insya Allah

Source: Pexels

Kita sadar betul ngaak segala sesuatu yang kita inginkan bisa terwujud. Semua hal yang ada di dunia ini bersifat tak pasti dan untuk itulah seorang hamba harus terus menerus berikhtiar. Kata insya Allah pun merupakan wujud pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal yang bisa kita lakukan hanyalah bekerja keras karena semua usaha dari kerja kerasmu belum tentu menemukan kepastian hasil. Untuk itu kata “insya Allah” digunakan untuk perbuatan yang akan dilakukan di masa datang.

Seperti perkataan Nabi Ismail alaihi salam yang terdapat dalam surah berikut ini.

سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Engkau akan mendapati aku, insya Allah, sebagai orang yang sabar.” (QS. Ash Shaffat: 102). Kemudian Itban bin Malik radhiallahu’anhu berkata:

 ووَدِدْتُ يا رَسولَ اللَّهِ، أنَّكَ تَأْتِينِي فَتُصَلِّيَ في بَيْتِي، فأتَّخِذَهُ مُصَلًّى، قالَ: فَقالَ له رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: سَأَفْعَلُ إنْ شَاءَ اللَّهُ

“Wahai Rasulullah, Aku berharap anda dapat mendatangi rumahku, lalu anda mengerjakan salat di sana, kemudian akan aku jadikan tempat tersebut nantinya sebagai ruangan salat di rumahku”. Dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku akan lakukan itu insya Allah”. (HR. Bukhari no.425).

Melihat hal yang tertuang di surah Al-Kahfi ayat 23-24 di atas berarti mengucapkan insya Allah untuk janji yang akan datang hukumnya adalah sunah tak wajib. Tapi umat muslim boleh juga mengucapkan insya Allah untuk amalan yang sudah berlalu dalam rangka tawadhu’ atau rendah hati.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:

أما في العبادات فلا مانع أن يقول: إن شاء الله صليت، إن شاء الله صمت؛ لأنه لا يدري هل كملها وقبلت منه

 أم لا

“Adapun dalam masalah ibadah, boleh seseorang mengatakan: “Saya sudah shalat, insyaallah”. Atau mengatakan: “Saya sudah puasa, insyaallah”. Karena ia tidak tahu apakah sudah melakukan ibadah tersebut secara sempurna atau tidak, dan tidak tahu apakah diterima atau tidak”.

أما الشيء الذي لا يحتاج إلى ذكر المشيئة مثل أن يقول: بعت إن شاء الله- فهذا لا يحتاج إلى ذلك

“Adapun dalam perkara-perkara yang tidak perlu untuk menyebutkan kehendak Allah di sana, maka tidak perlu mengucapkan ‘insyaallah’. Seperti mengatakan: “Saya sudah membelinya, insyaallah”. Ini tidak diperlukan.” (Majmu’ Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah, 5/403-404).

5. Keutamaan mengucap insya Allah

Source: Pexels

Kata insya Allah memiliki keutamaan karena mengandung doa, yaitu doa isti’anah. Doa ini sebenarnya sebagai bentuk permintaan tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar apa yang kita rencanakan dan janjikan dimudahkan oleh-Nya.

Keutamaan lainnya adalah Allah SWT akan senantiasa memberikan kemudahan bagi umat-Nya yang kerap mengamalkannya dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya saja ada beberapa contoh kejadian yang pernah dialami oleh para Nabi, di mana Allah akan menegur mereka ketika tak mengucapkan kata insya Allah dalam melakukan sesuatu.

Begitu pula sebaliknya, Allah SWT akan memberikan kemudahan dan hasil akhir yang baik ketika mereka senantiasa mengucapkan insya Allah dalam segala rencana hidup mereka.


Itu dia pembahasan lengkap mengenai penulisan insya Allah yang benar. Semoga artikel ini bisa membantu kamu mengerti makna mendalam tentang insya Allah yang bukan hanya sekadar kata atau janji belaka.

Apa masih bingung lagi dengan penulisan insya Allah yang benar? Bisa share di kolom komentar pendapat kamu.

Cari kost dekat dengan kuliner, perkantoran, rumah sakit, maupun tempat strategis lainnya? Coba ngekost di Rukita saja! Semua unit kost Rukita di Jabodetabek, Surabaya, Malang serta Bandung berada di lokasi strategis dengan akses mudah dekat berbagai tempat strategis.

Jangan lupa unduh aplikasi Rukita via Google Play Store atau App Store, bisa juga langsung hubungi Nikita (customer service Rukita) di +62 811-1546-477, atau kunjungi www.rukita.co.

Follow juga akun Instagram Rukita di @Rukita_Indo dan Twitter di @Rukita_Id untuk berbagai info terkini serta promo menarik.

Bagikan artikel ini