Tinggal bersama, tuh, asyiknya ramai-ramai!

Beberapa tahun terakhir, nih, ruang kerja berkonsep coworking space meramaikan industri Indonesia. Di era modern ini, konsep hunian coliving pun mulai digandrungi para milenial dan tak kalah populer.

Coliving sendiri berasal dari kata communal living yang berarti hidup bersama. Konsep tini tentunya lekat dengan hidup berdampingan dalam suatu komunitas.

Apa Bedanya dari Kost?

sejarah asal mula coliving
Source: furnishr.com

Nah, di Indonesia, coliving sering kali disamakan dengan kost. Padahal kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda.

Coliving merupakan konsep tinggal di hunian dengan beberapa orang sehingga membentuk komunitas. Meski begitu, masing-masing penghuni tak akan kehilangan hak privasinya.

batasan antara coliving dan kost
Source: thewhisp.mommyish.com

Sedangkan para penghuni kost cenderung tak terlalu memikirkan satu sama lain walau tinggal di gedung yang sama. Fasilitas dan kenyamanan yang ditawarkan coliving juga tentunya berbeda dari tempat kost.

Sebelum populer seperti sekarang, konsep coliving ternyata memiliki asal usul yang menarik. Penasaran? Yuk, simak di bawah ini!

Sejarah Konsep Coliving

sejarah asal mula coliving
Source: cretechiotnyc.com

Sebelum masuk ke sejarah coliving, coba kita ingat-ingat lagi kehidupan manusia purba di masa lalu. Pada saat itu manusia purba tak bisa hidup sendiri, bukan?

Mereka hidup berkelompok dan berkumpul untuk dapat bertahan hidup. Mulai dari berburu, berbagi makanan, hingga melindungi diri pun dilakukan bersama-sama.

Ungkapan 'manusia adalah makhluk sosial' bukan sekadar omong-kosong belaka. Seperlu-perlunya privasi, nih, naluri manusia selalu mencari dan membutuhkan komunitas.

Apalagi jika seseorang tersebut merupakan pendatang baru. Ia pasti akan mengesampingkan sejenak privasinya dan mencari bantuan dari orang lain, sekecil apa pun itu.

Konsep Coliving di Era 90-an

coliving di tahun 90-an
Source: daily.jstor.or

Konsep coliving sendiri marak digandrungi memasuki era 90-an. Konsep tersebut banyak diterapkan pada asrama karyawan yang dibuat oleh banyak industri atau pabrik.

Tujuan adanya asrama ini adalah untuk mengurangi keterlambatan masuk kerja. Keuntungan lain adalah karyawan bisa menekan biaya hunian serta membangun komunitas.

Nah, coliving di era 90-an ini memiliki beragam istilah, yakni dormitory, cohousing, the boarding house, dan kost (di Indonesia). Meski begitu semua istilah memiliki inti yang sama yaitu berbagi tempat tinggal.

Konsep coliving ini membantu orang-orang untuk tinggal dalam suatu hunian yang menjunjung nilai sosial (berkomunitas), tapi tak mengesampingkan nilai privasi masing-masing.

Asal Mula Co-Living di Beberapa Negara

coliving di berbagai negara
Source: ikea.com

Denmark

Pada tahun 1964, konsep coliving di Denmark menggunakan istilah cohousing. Saat itu, arsitek bernama Jan Gudmand-Hoyer dan teman-temannya membahas soal pilihan hunian yang efektif.

Ia pun mencetuskan untuk membangun rumah bertingkat 12 lantai. Di rumah itulah beberapa keluarga akan tinggal berdampingan dengan fasilitas kolam renang.

Ide tersebut pun disetujui oleh pejabat daerah setempat. Namun, pada saat itu konsep coliving belum dapat diterima dengan baik oleh sebagian masyarakat.

Inggris

Bergeser ke Inggris, ya, pada zaman dulu konsep coliving dimulai dari dormitary khusus perempuan. Harapannya, tuh, agar para perempuan yang sedang mengenyam pendidikan dapat tinggal di lingkungan nyaman dan sehat.

Dormitory ini juga didukung para orang tua yang khawatir jika putrinya tinggal seorang diri dan tak fokus sekolah. Selain itu juga untuk menghindari adanya tindakan kriminal.

Lambat laun konsep ini pun berkembang juga untuk para laki-laki. Layaknya coliving di zaman sekarang, dulu mereka juga mengadakan kegiatan bersama dalam beberapa waktu.

Kegiatannya berupa makan malam bersama dengan sesama penghuni di meja besar. Semua penghuni diwajibkan mengikuti kegiatan rutin ini, lho.

Amerika

Di Amerika konsep coliving diterapkan untuk tempat tinggal para buruh di zaman dulu. Namun, kemudian para buruh menginginkan privasi yang lebih dari sebuah hunian pribadi.

Di sektor pertanian, masyarakat pun tetap membutuhkan komunitas walaupun tak tinggal dalam hunian bersama.

Inilah yang mendorong masyarakat memiliki properti pribadi yang lebih eksklusif. Fenomena ini memotivasi masyarakat untuk membeli hunian yang memberikan privasi lebih.

Populernya Coliving di Indonesia

sejarah coliving - populernya coliving di Indonesia
Source: Dok. Rukita

Nah, saat ini fenomena coliving di Indonesia lebih populer di kota-kota besar. Di Indonesia, konsep ini mengadopsi kedua bentuk coliving dari luar negeri (cohousing dan dormitory), baik untuk pelajar maupun karyawan.

Konsep coliving ini kemudian jadi solusi ideal bagi para milenial dan kaum urban. Apalagi dengan tingginya harga apartemen serta rendahnya daya beli karyawan untuk membeli rumah pribadi di kota besar.

Berbagai startup coliving di Indonesia pun mulai menjamur, salah satunya adalah Rukita. Hunian coliving tentunya lebih menggiurkan dari menyewa apartemen yang mahal ataupun sewa kost dengan fasilitas terbatas.

Apa yang Membuat Coliving Populer?

sejarah coliving - mengapa coliving populer
Source: realtor.com

Konsep coliving ini populer karena dua hal, yakni komunitas dan keterjangkauan. Seperti yang disebutkan di atas, coliving menjadi solusi bagi milenial yang memiliki dana terbatas, tapi butuh hunian berkualitas.

Selain itu, menurut laporan dari perusahaan riset dan manajemen properti global, Jones Lang LaSalle (JLL), cara manusia bertempat tinggal berubah karena cepatnya proses urbanisasi.

sejarah asal mula coliving
Source: stopp.community.com

Tak hanya berbagi fasilitas dan ruang, coliving juga mendorong penghuninya untuk berbagi sumber daya, minat, dan keterampilan masing-masing sebagaimana sebuah komunitas.

Meski begitu konsep coliving memang belum bisa diterima oleh semua orang. Masih banyak orang yang lebih mementingkan nilai privasinya daripada naluri untuk hidup berkomunitas.

Padahal, coliving tak akan menghilangkan nilai privasi, malah bisa meningkatkan kualitas hidup penghuninya. Apakah kamu tertarik tinggal di hunian coliving?

BACA JUGA: Belum Mampu Beli Rumah? No Problem! Ini 5 Alasan Kenapa Co-Living Bisa Jadi Solusi yang Lebih Baik untuk Milenial